Quo Vadis Karimunjawa: Dari Pulau Bajak Laut hingga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Trending 3 months ago

Oleh : Hadi Priyanto

Pada tahun 1810 Karimunjawa nan saat ini mendapatkan pengakuan badan PBB Unesco sebagai Cagar Biosfer Dunia dan telah pula ditetapkan sebagai Taman Nasional serta Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, dikenal sebagai Crimon Jawa. Saat itu pulau ini dikenal dikenal sebagai pulau bajak laut.

Setdaknya gambaran tentang kehidupan masa lampau Karimunjawa itu terungkap dalam kitab Het Hoge Huis aan de Javazee : de geschiedenis van een zeeroverseiland (Rumah Tinggi di Laut Jawa : Sejarah sebuah Pulau Bajak Laut), karya Joop van den Berg nan diterbitkan BZZToH, ‘s-Gravenhage, 1991. Buku ini telah disarikan oleh Daniel Frits Maurits Tangkilisan.

Dalam kitab ini digambarkan keganasan bajak laut Karimunjawa, hingga disebutkan ibaratkan kutukan bukan saja bagi kapal-kapal pemerintah, kapal-kapal jual beli Eropa, dan Amerika tetapi juga kapal milik para saudagar Nusantara. Akibatnya perdagangan, kriya dan apalagi pertanian tersendat lantaran lalu-lintas laut dikuasai oleh bajak laut. Sepertinya tidak ada lagi kapal nan bisa melayari laut Nusantara dengan aman. Kondisi perairan nan menjadi pelintasan utama jalur pelayaran di laut Jawa ini tidak bisa dikendalikan lagi.

Melihat kondisi ini tentu pemerintah Hindia Belanda kesulitan. Utamanya Residen Japara Mr. J.A. Doornik. Ia betul-betul kehilangan logika karena keganasan bajak laut Karimunjawa nan tak juga bisa ditanggulangi hingga Inggris berkuasa.

Karena itu saat pendudukan Inggris di Nusantara (1811-1815) Sir Thomas Stamford Raffles mengambil tindakan untuk menghabiskan bajak laut di Crimon Jawa nan telah lama terkenal sebagai sarang bajak laut. Pada tahun 1812, angkatan laut Inggris dengan 4 kapal fregat menghancurkan dan menghalau semua armada bajak laut di Crimon Jawa. Lalu ditempatkan seorang pejabat nan mewakili pemerintah pusat di Batavia guna mencegah kembalinya bajak laut. Ia diperlengkapi dengan beberapa lusin prajurit, 30 senapan, dan beberapa meriam mini

Setelah Belanda kembali berkuasa, pada tanggal 15 Mei 1818, Sang Residen kemudian menunjuk salah satu staf instansi residen berjulukan Carel Rudolph von Michalofski sebagai asisten-residen di Crimon Jawa.

Tugas pertama asisten-residen Crimon Jawa berdarah Polandia ini adalah mengusir bajak laut nan kembali ke kepulauan tersebut setelah tahun 1811 digempur pasukan Inggris.

Setelah itu berbareng 1100 orang balasan nan dibuang dari Pulau Jawa dia membangun Crimon Jawa. Para tahanan ini disamping untuk mengisi Crimon Jawa juga dipekerjakan secara paksa untuk mendirikan pos alias pemukiman dibatas rimba belantara disisi-sisi gunung Paserehan dan di tanjung rawa-rawa diujung selatan pulau Crimon Jawa. Sebuah proyek nan mengundang bencana.

Dihutan belantara disisi gunung Paserehan nan dia coba tebang penuh ular-ular berbisa. Sementara dalam rawa-rawa nan menutupi tanjung dipenuhi nyamuk malaria. Dalam waktu nan sangat singkat ratusan pekerja paksa tewas digigit ular alias terkena demam malaria sehingga tidak bisa lagi bertahan. Namun Residen Japara tetap mengirimkan orang-orang buangan untuk membangun Crimon Jawa. Sebab ini menjadi salah satu langkah agar Crimon Jawa tidak lagi menjadi markas bajak laut.

Para narapidana nan dibuang ke Crimon Jawa untuk menjalani balasan kerja paksa itu mendapat makanan dan busana dari pemerintah. Mereka wajib bekerja selama 8 jam perhari jika sang asisten residen alias pegawainya membutuhkannya. Sebagai imbalan, mereka mendapatkan 2 gulden perbulan (perempuan mendapat 1 gulden), 40 pon beras dan 2 pon garam.

Dua kali setahun mereka mendapat sepotong kerudung biru, hem dan celana berbahan sama serta sarung kotak-kotak. Merekalah nan membikin pulau utama KarimunJawa sejahtera dan teratur. Pada tahun 1826 Karimunjawa telah didiami hanya oleh orang bebas. Pada tahun 1827 hasil sensus masyarakat Karimunjawa 283 jiwa nan terdiri dari 160 laki-laki dan 123 perempuan.
******
Kini setelah 200 tahun berlalu, kisah pulau Karimunjawa sebagai markas bajak laut itu telah dilupakan orang. Sebab kepulauan nan mempunyai potensi sumber daya alam nan sangat bagus ini telah ditetapkan sebagai Taman Nasional dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Juga ditetapkan oleh Unesco sebagai Cagar Biosfer Dunia.
Kawasan Karimunjawa- Jepara- Muria dengan luas daratan 1.236.083,97 ha telah ditetapkan sebagai cagar biosfer bumi oleh UNESCO. Penetapan tersebut diumumkan dalam sidang ke-32 International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) UNESCO tahun 2020 nan berjalan pada tanggal 28 Oktober 2020. Pengajuan Karimunjawa sebagai cagar biosfer sendiri telah dilakukan sejak tahun 2017.

Alasan pengusulan area ini sebagai area cagar biosfer, di antaranya lantaran merupakan rimba tropis dataran rendah, rimba mangrove, ekosistem rimba pantai, ekosistem padang lamun, terumbu karang dengan spesisfikasi luas terumbu karang mencapai 7.487,55 hektare, dan jenis jenis mangrove nan ada di Karimunjawa. Tujuannya melindungi keanekaragaman hayati nan ada didalamnya untuk kehidupan umat manusia

Cagar biosfer ini merupakan konsep pengelolaan area nan bermaksud untuk melakukan pengharmonisan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi nan berkelanjutan.

Melalui penetapan cagar biosfer ini diharapkan memberikan pedoman pengelolaan area nan mengintegrasikan kepentingan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan kepentingan pembangunan sosial ekonomi nan berkepanjangan sebagai upaya untuk mewujudkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Sebab pembangunan ekonomi nan tidak memerhatikan aspek kelestarian lingkungan pada akhirnya bakal berakibat negatif pada lingkungan itu sendiri. Sebab sumber daya alam dan lingkungan mempunyai kapabilitas daya dukung nan terbatas. Artinya, pembangunan ekonomi nan tidak memerhatikan kapabilitas sumber daya alam dan lingkungan bakal menyebabkan persoalan pembangunan di kemudian hari

Karena itu perlu dicari titik keseimbangan antara konservasi dan ekonomi, dengan tetap berpegang pada prinsip keberlanjutan. Konsekuensinya sederhana, ialah mengurangi aktivitas manusia nan secara langsung mengganggu ekosistem alam. Solusinya, dipilih kegiatan-kegiatan ekonomi nan sifatnya tidak ekstraktif alias destruktif nan dapat mengganggu dan apalagi merusak kelestarian alam

Salah satu opsi aktivitas nan dapat dikembangkan adalah pariwisata. Namun, pengembangan pariwisata pun jangan sampai mengubah bentang alam dan menakut-nakuti keanekaragaman hayati nan menjadi kekuatan utamanya. Karena itu setelah ditetapkan menjadi cagar biosfer tentu kudu ada rencana induk, agar semua berada di bawah satu payung serta menjadi pedoman bersama, bukan hanya pemerintah tetapio juga pelaku upaya dan apalagi masyarakat lokal.
******
Strategi nan dipilih oleh pemerintah untuk dapat mengembangkan Karimunjawa adalah menetapkan Karimunjawa sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Tetesan minyak dari kebijakan ini telah demikian dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Setidaknya tercermin pada peningkatan nomor kunjungan wisata dan palaku upaya nan terlibat.

Pada tahun 2020 saat covid belum melanda, tercatat kunjungan wisata ke Karimunjawa adalah visitor nusantara 13.452 orang dan wiusatawan asing 203 orang. Angka ini menurun drastis saat pandemi tahun 2021 nan hanya mencatat kunjungan wisawatan nusantara 8.665 orang dan mancanegara 50 orang.

Namun ketika covid telah reda dan pintu kunjungan visitor ke Karimunjawa mulai dibuka, terjadi lonjakan kunjungan nyaris 600 persen dengan kunjungan visitor nusantara 59.203 orang dan visitor manca negara 3.649 orang. Sedang tahun 2023 tercatat visitor asing 4.333 orang dan visitor lokal 49.540 orang. Walaupun sedkit menurun, namun geliat ekonomi dari sektor periwisata bisa memberikan angan baru bagi penduduk Karimunjawa. Sebab kemudian tumbuh hotel, home stay hingga 123 buah.

Sementara penduduk nan terlibat dalam industri pariwisata terus naik. Untuk penduduk nan berupaya perahu wisata tercatat 92 orang, transportasi 143 orang. Ini belum termasuk pemandu wisata dan perusahaan nan bergerak dalam bagian toiur % travel. Sektor pariwisata benar-henar menjadi kunci peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan pembangunan pariwisata nan semakin kompetitif dan tren pasar dunla nan semakin dinamis, serta posisi krusial KSPN Karimunjawa dan sekitarnya dalam peta kepariwisataan nasional, regional Jawa Tengah dan status area sebagai area konservasi memerlukan penanganan dan pengelolaan nan terpadu dan komprehensif. Tujuannya agar pada saat nan berbarengan area Karimunjawa tetap lestari dan berkembang sebagai lokasi wisata nan kompetitif serta bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya.

Apabila dilihat dari satus kawasan, maka Karimunjawa Juga termasuk sebagai salah satu area konservasi laut di Indonesia nan ditetapkan sebagal Taman Nasional (TN) Karimunjawa sehingga mempunyai ekosistem laut dan daratan nan spesifik dan khas.

Prinsip Pengembangan

KSPN Karimunjawa dan sekitarnya mempunyai potensi alam nan kaya dengan adanya lima ekosistem di Karimunjawa ialah Hutan Tropis, Hutan Pantai, Hutan Bakau, Padang Lamun dan Terumbu Karang. Selain potensi alam Karimunjawa juga kaya dengan budaya dengan beragam etnis nan tinggal di Karimunjawa. Dengan potensi kekayaan alam nan sudah diatur dalam zonasi Taman Nasional Karimunjawa maka pengembangan KSPN Karimunjawa dan sekitarnya mempunyai batas nan kudu diperhatikan.

Dengan adanya batas tersebut daya tarik di wilayah KSPN Karimunjawa merupakan wisata minat unik (special interest tourism),yang dipengaruhi oleh minat visitor terhadap destinasi atraksi wisata tertentu. Atraksi tersebut berupa terumbu karang dengan biota laut didalamnya. prinsip-prinsip pengembangan wisata minat unik antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, Penghargaan (Rewarding), ialah penghargaan atas sesuatu daya tarik wisata nan dikunjungi, nan diwujudkan pada kemauan visitor untuk dapat belajar memahami alias berperan-serta dalam aktivitas wisata nan mengenai dengan obyek tersebut.

Kedua, Pengkayaan (Enriching), ialah pengkayaan alias penambahan pengetahuan dan keahlian terhadap corak aktivitas wisata nan diikuti.

Ketiga, Petualangan (Adventuresome), ialah keterlibatan visitor dalam aktivitas wisata nan mempunyai resiko secara bentuk dalam corak aktivitas wisata petualangan.

Keempat, Pembelajaran (Learning), ialah mengandung aspek pendidikan melalui proses belajar nan diikuti visitor terhadap aktivitas edukatif nan terdapat di suatu area wisata.

Pengembangan pariwisata nan direncanakan kudu dapat mengantisipasi dan mengelola beragam aspek nan berkembang, memperhatikan aspek konservasi, kelestarian lingkungan, dan memberikan faedah bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan perihal tersebut, prinsip dalam pengembangan KSPN Krimunjawa dan sekitarnya adalah sebagai berikut:
1) Prinsip Konservasi, pengembangan dilakukan dengan merujuk pada kaidah-kaidah pelestarian ekosistem daratan maupun perairan, serta melestarikan budaya dan sejarah lokal;
2) Prinsip Keseimbangan, didasarkan pada komitmen antara keseimbangan pelestarian alam, budaya dan keseimbangan ekonomi;
3) Prinsip Keterpaduan, pengembangan pariwisata dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif;
4) Prinsip Pelibatan Masyarakat, pengembangan pariwisata dilakukan dengan melibatkan masyarakat baik dalam perihal perencanaan, pemanfaatan hingga pengendalian.

Dalam ikhtiar menuju cita – bita memuliakan dan menjaga alam agar dapat menghidupi generasi mendatang, tentu kudu ada langkah-langkah konkrit nan bukan saja berada di meja para pemangku kepentingan, tetapi penduduk juga kudu dibuka pemahaman dan kerangka berfikirnya serta dilibatkan dalam perencanaan masa depannya .

Ini menjadi tugas berat bagi siapapun nan mendapatkan mandat dari Negara untuk menjadikan langkah pengembangan Karimunjawa kedepan dalam sebuah orkestra nan padu dan merdu didengar. Diperlukan sikap tegas dari para pemangku kepentingan seperti Sang Asisten Residen Crimon Jawa, Carel Rudolph von Michalofski nan dengan sikap tegas dan keberaniannya menghalau grombolan bajak laut nan mau kembali menjadikan Karimunjawa sebagai sarang mereka. Ia juga memberikan arah bagi pengembangan Karimunjawa.

Penulis adalah Wartawan dan pegiat budaya Jepara