Kenali Yuk, ‘Sedulur Papat Limo Pancer’ dalam Dirimu

Trending 1 month ago

JEPARA (SUARABARU.ID)- Ratusan tahun nan lampau Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan wejangan dalam sebuah tembang nan berjudul “Kidung Marmati”. Marmati diartikan dengan samar mati. Artinya ketika seorang ibu melahirkan bakal mengalami kondisi antara hidup dan mati. Tembang tersebut juga mengajarkan kepada kita makna sangkan paraning dumadi atau proses kita menjadi ada.

Dalam falsafah Jawa, saat usia kandungan menginjak empat bulan alias dalam Jawa mitoni, ketika Allah meniupkan ruh Nya, diturunkanlah empat malaikat ialah Jibril, Mikail, Isrofil dan Izroil. Menginjak usia lima bulan, tambah satu lagi (diri kita) sehingga menjadi apa nan dinamakan “sedulur papat limo pancer”.

Jadi dalam budaya kebiasaan masyarakat Jawa ada upacara mapati (empat bulan), ningkepi (enam bulan), hingga mitoni (tujuh bulan). Setelah mitoni, usia bayi menjelang delapan bulan hingga sembilan bulan sudah tenteram di dalam kandungan lantaran dijaga oleh empat malaikat. nan dua malaikat berada di sebelah kanan dan dua malaikat ada di sebelah kiri. nan satu lagi adalah pusat, ialah diri kita sendiri. Sehingga Sunan Kalijaga memberi nama dengan julukan Sedulur papat lima pancer.

Lebih jauh Kanjeng Sunan Kalijaga menjelaskan empat malaikat nan menjaga kita sejak dalam kandungan hingga lahir alias nan disebut sedulur papat ini dilambangkkan dengan simbol Kakang Kawah/air ketuban, Adhi ari-ari. Getih/darah, dan Pusar/plasenta.

Kakang Kawah/air Ketuban adalah cairan nan menemani kita sejak dalam kandungan hingga kelahiran. Seperti nan kita ketahui, air ketuban bekerja melindungi kita dari tumbukan dan melindungi bayi dari kekeringan. Karena dengan adanya air kawah ini bayi bisa bebas bergerak. Kakang kawah inipun nan keluar terlebih dulu membukakan jalan bagi si jabang bayi sehingga Kanjeng Sunan Kalijaga menyimbolkan air ketuban ini sebagai Kakang Kawah.

Adhi ari-ari atau dinamakan placenta dalam pengetahuan kedokteran. Adhi ari-ari bekerja untuk menyalurkan saripati makanan kepada si bayi dari makanan nan dimakan oleh ibu saat di dalam kandungan. Adhi ari-ari keluar setelah bayi lahir, sehingga dalam falsafah Jawa disebut “adi” alias kerabat muda. Adhi ari-ari ini juga penerapan dari prilaku baik dan jelek ayah dan ibu bagi si jabang bayi.

Getih/darah sama seperti halnya air ketuban, Getih juga menemani si bayi sejak dalam kandungan hingga proses kelahiran. Getih ini juga berada di dalam tubuh si bayi hingga dia dewasa.

Pusar/tali placenta tugasnya adalah memberi perhatian. Tali pusar seperti halnya ari-ari menemani sampai si jabang bayi lahir hingga usia tujuh hari nan bakal secara alami mengering dan lepas dengan sendirinya. Proses lepasnya tali pusar dari bayi disebut  puput atau pupak.

Maka lengkaplah Sedulur Papat (empat saudara) Limo Pancer (yang kelima adalah diri kita sendiri sebagai pusat untuk bersatu) alias dalam bahasa Jawa nyawiji. Menjadi tunggal dalam perwujudan saya sebagai corak buatan dari Allah swt. Tugas sedulur papat meskipun telah usai namun pada hakekatnya keempat kerabat tadi tidak lenyap lantaran sudah menjadi bentuk diri kita. Sedulur Papat tadi tetap menjadi bagian dari diri kita. Jika kita berperilaku betul kita bakal mencapai maqom manusia nan sempurna alias insan kamil.

Kanjeng Sunan Kalijaga memberi nama Sedulur Papat tadi menjadi sedulur Aluamah, sedulur Supiyah, sedulur Amarah, dan sedulur Mutma’inah. Sama dengan nan telah diajarkan oleh Imam Ghozali memberi nama sedulur papat dengan istilah nafs.  Jika keempat sedulur tadi dekat dengan malaikat, maka prilaku diri kita (pancer) akan menjadi baik. Begitu pula sebaliknya.

ua