Daniel Ajukan 8 Saksi, Tri Utomo: Kritik “Otak Udang” Juga untuk Oknum yang Melakukan Pembiaran

Trending 1 month ago

JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam persidangan aktivis lingkungan hidup Karimunjawa Daniel Frits Maurits Tangkilisan di Pengadilan Negeri Jepara Rabu (13/3-2024), penasehat norma terdakwa menghadirkan 8 orang saksi nan meringankan. Mereka adalah Tri Pramono, Lafi, Yarhamudin, Rifki Tri Agusta, Mastur, Agus Dwiyanto, Rudi Ichlan, dan Tri Utomo Sekretaris DPW Kawali Jawa Tengah.

Sidang dipimpin oleh Parlin Mangatas Bona Tua SH dan pengadil personil Joko Ciptanto, S.H., M.H dan Muhammad Yusup Sembiring, SH. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum adalah Ida Fitriyani SH dan Irfan Surya, SH. Hadir dalam persidangan, Komisioner Komnas HAM, Anis Hidayah nan datang untuk memantau jalannya persidangan.

blankTri Utomo, Sekretaris DPW Kawali Jateng saat memberikan kesaksian

Sementara Daniel didampingi oleh penasehat hukumnya dari tim pembelaan alumni Universitas Indonesia Marthin Ismawan dan Gita Paulina T Purba serta Nur Wahid Satria Mandala dari Walhi. Mereka tergabung dalam Koalisi Advokat Pembela Pejuang Lingkungan Hidup (KPPLH) nan terdiri dari 19 penasehat norma Daniel Frits Maurits Tangkilisan.

Sekretaris Kawali DPW Jateng Tri Utomo dalam kesaksiannya menjelaskan tentang kiprah Daniel dalam pelestarian lingkungan hidup Karimunjawa jauh sebelum dia berasosiasi dalam Kawali di bagian IT dan Propaganda.

Sikap kritis Daniel nan diungkapkan dengan narasi otak udang adalah kritik bukan saja untuk masyarakat nan mengabaikan kelestarian alam dan susah mengerti tentang pentingnya lingkungan hidup nan lestari bagi perkembangan pariwisata, tetapi juga para pejabat nan selama ini melakukan pembiaran.

“Dampak tambak udang terlarangan sudah mulai dirasakan tahun 2020, namun oknum-oknum nan mendapatkan kewenangan dari negara untuk menjaga kelestarian alam justru membiarkan. Ini menurut saya juga menjadi sasaran kritik Daniel sebagai aktivis lingkungan,” tegas Tri Utomo.

Menurut Tri Utomo, upaya tambak udang di Karimunjawa adalah terlarangan lantaran tidak mengantongi ijin teknis sebagai mana nan diatur dalam UU maupun Peraturan Pemerintah. Juga terbukti merusak lingkungan. Anehnya para perusak lingkungan ini dibiarkan bertahun-tahun dan aktivis nan giat memperjuangkan lingkungan malah dikriminalisasi,” tegasnya.

Kasus nan menjerat Daniel nan kemudian menimbulkan persoalan sosial, budaya, ekonomi dan ekologi muncul lantaran abdi negara pemerintah melakukan pembiaran bertahun-tahun, pungkas Tri Utomo

Sementara Yarhanudin, dari Desa Kemujan nan demikian terhanyut saat memberikan kesaksian, mempertanyakan kenapa orang sebaik Daniel justru dilaporkan. “Saya tidak merasa terhina dengan postingan Daniel soal masyarakat otak udang. Itu sikap kritis. Bahkan kami memerlukan banyak orang seperti Daniel untuk menjaga kelestarian alam Karimunjawa, ,” tutur Yarhanudin nan berkawan disapa Ambon dengan kalimat nan terbata-bata. Mengapa Daniel nan sudah menjaga Taman Nasional, Cagar Biosfer Dunia dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dari kerusakan akibat tambak justru diadili?, ujar Ambon

Dalam persidangan tersebut dia justru mempertanyakan mental pelapor. ” Para petambak nan aktivitasnya jelas merusak lingkungan malah dibiarkan bebas berkeliaran. Sementara Daniel nan jelas-jelas memperjuangkan lingkungan malah dijadikan terdakwa di persidangan, ” ungkap Yarhanudin. Pelapor dan petambak itu seumpama burung nan sama bakal hinggap di cabang nan sama, tambahnya

Ia justru mempertanyakan, keadilan apa nan sedang dipertontonkan dengan melaporkan Daniel. “Saya tau ada banyak permainan dalam kasus Daniel, ” ujarnya.

Bahkan Perkumpulan Masyarakat Karimunjawa Bersatu menurut Ambon, program pertamanya adalah melaporkan Daniel tanggal 8 Februari 2023. Sedangkan perkumpulan ini di sahkan tanggal 6 Februari, ” terangnya.

Sedangkan Rudi Ichlan dan Agus Dwiyanto nan tinggal di Desa Tempur, Kecamatan Keling menjelaskan kiprah Daniel di desa wisata itu sejak tahun 2017, utamanya dalam pelestarian alam, kebersihan dan pariwisata. “Kami merasa sangat terbantu. Bahkan saya parnah diajak ke Karimunjawa dengan beberapa kawan untuk belajar tentang mengelola pariwisata, ” ujar Rudi.

Sementara Tri Pramono, Lafii, , Rifki Tri Agusta, dan Mastur nan juga memberikan kesaksian menjelaskan bahwa Daniel adalah pegiat lingkungan nan menjadi motivator mereka. “Postingan Daniel tentang otak udang adalah kritik bagi siapun nan tidak mau mengerti bahwa tambak udang itu merusak lingkungan,” ujar Rifki Tri Agusta.

Sedangkan Lafii mengakui akibat tambak udang sangat luar biasa bagi petani rumput laut nan kemudian mengalami penurunan hasil lantaran perairan tercemar. Juga nelayan pinggir, ujarnya

Hadepe